Kali ini gue bakal ngebahas sebuah novel yang sudah dijadikan film oleh salah satu rumah produksi terkenal Indonesia, Soraya Intercine Film. Produser yang kali ini kebagian jatah untuk memegang peranan penting dalam film ini adalah Ram Soraya dan Sunil Soraya. Mengambil setting latar di beberapa kota besar serta tempat-tempat yang menarik, serta setting cerita yang menarik, membuat gue dan mungkin sebagian orang penasaran akan cerita film ini.
Film yang diadaptasi dari judul novel yang sama--Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh--dirilis oleh Soraya pada 11 Desember 2014 yang lalu, sehari setelah perilisan film yang pastinya menyertai masa kecil anak generasi 90an--Doraemon: Stand By Me. Film ini cukup menyedot perhatian kalangan penikmat film dalam negeri, terbukti dari beberapa kali gue menyambangi salah satu bioskop di daerah Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Selatan, bangku-bangku terisi penuh dan hanya menyisakan sisa tempat sekitar 2-3 bangku untuk 1 studio (kapasitas 1 studio antara 70-150 kursi).
Novelnya sendiri sebenarnya telah diterbitkan cukup lama, sekitar tahun 2001 oleh Dewi Lestari atau lebih familiar dengan sebutan Dee Lestari. Dikatakan, banyak para pengamat dunia sastra Indonesia pada tahun itu menganggap buku ini adalah generasi sastra terbaru dari generasi sebelumnya yang patut dijadikan referensi bagi para penikmat sastra Indonesia yang sekarang, kurang peminatnya. Gue sendiri, karena nggak bisa nonton di bioskop, jadilah gue membeli novelnya, yang gue baru tau kalau novelnya diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka. Gue beli yang cetakan tahun 2012. Harusnya, bagi kalian yang penasaran sama novelnya, di Gramedia masih ada sih.
Kembali, para aktor dan aktris yang sebelumnya sempat memerankan peran di film fenomenal 5 cm hadir disini. Sebut saja Herjunot Ali, Fedi Nuril, dan Raline Shah. Mereka merupakan 3 tokoh sentral disamping 2 pemain sentral lainnya, Arifin Putra dan Hamish Daud. ada juga seorang model yang diikut-sertakan dalam film ini, Paula Verhoeven.
Cerita berawal dari kedua tokoh utama kita, Dimas dan Reuben, 2 orang mahasiswa yang menimba ilmu di Amerika Serikat bertemu disebuah pesta apartemen mewah di Washington DC. Lalu hubungan mereka berlanjut terus (ya, mereka gay) sampai pada akhirnya, mereka berdua berjanji untuk membuat sebuah karya roman, yang menggabungkan unsur sains dalam waktu 10 tahun. Tokoh utama cerita yang mereka buat adalah seorang Ksatria. Dia sukses, muda, tampan, kaya-raya, tapi dia adalah seseorang yang kekurangan kasih-sayang, orang yang datar dan tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup. Lalu, tokoh kedua adalah seorang Puteri. Puteri ini dilukiskan sebagai seorang wanita karier yang sukses dan telah menikah dengan seorang ningrat, tapi dalam pernikahannya, dia merasa sepi dan tidak bergairah. Tokoh ketiga, yang menjadi pelengkap dan menurut gue sangat penting dalam jalannya cerita ini adalah Bintang Jatuh. Dideskripsikan sebagai model profesional, cantik, pintar walaupun tidak pernah menempuh pendidikan formal seperti anak lainnya, berpikiran kritis dan luas, berbicara irit dan to the point.
Pararel dengan dunia roman yang mereka buat, adalah seorang pengusaha muda sukses yang tampan bernama Ferre. Persis seperti deskripsi tokoh Ksatria yang diciptakan Dimas dan Reuben, pria ini adalh pria yang tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup dan monoton. Hingga suatu ketika, Ferre--atau biasa dipanggil Re--bertemu dengan seorang wakil pemred majalah wanita yang ingin mewawancarai Re untuk rubriknya. Namanya Rana. Disini, Re langsung jatuh hati pada Rana. Sayangnya, Rana telah menikah dengan seorang dari keluarga ningrat dan terpandang yang juga sukses, Arwin. Tapi, segala cara ditempuh oleh mereka berdua agar bisa bersatu sebagai pasangan yang sedang dimabuk cinta. Hidup Re pun berubah sejak bertemu Rana. Kali pertama setelah sekian lama dia tidak merasakan perasaan bahagia. Sedangkan Rana, terjebak dalam dua dunia sekaligus. Di satu sisi dia ingin terus bersama Ferre, karena dia merasakan kalau hatinya ternyata untuk Re. Di sisi lain, Rana masih harus mempertahankan rumah tangganya dengan Arwin. Hubungan gelap antara Ferre dan Rana ternyata menimbulkan konflik yang menarik. Lalu, masuklah seorang tokoh baru--Bintang Jatuh--Diva namanya. Seorang supermodel dengan jam terbang yang tinggi dan bayaran tinggi serta merangkap pekerjaan sebagai lady escort (pelacur kelas atas). Dia memiliki pemikiran luas yang kritis terhadap dunia ini. Ketiganya lalu persatu padu seiring dengan progress karya roman yang diciptakan Dimas dan Reuben.
Lalu, mereka semua dipertemukan lewat sebuah chat group (gue nggak bisa menemukan kata-kata yang lebih tepat untuk melukiskannya), dengan ketua (ya kurang lebih begitu) yang menamai dirinya dengan Supernova. Sosok Supernova--cyber avatar--yang misterius tapi dengan pemikirannya yang dalam dan luas serta kritis membuat kehadirannya ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang sedang membutuhkan wejangan.
Gue pribadi, saat baca novelnya, sedikit kebingungan sih dengan istilah-istilah fisika atau reaksi kimia yang dicampur-adukkan dengan ceritanya. Maklum, gue ini anak IPS dan yang pasti gue hanya mengenal istilah-istilah dalam perekonomian, akuntasi dan teman-temannya. Walaupun penulis memberikan catatan kaki akan kata-kata yang sulit dimengerti, buat gue pribadi itu masih kurang buat orang awam macam gue ini. Entah karena otak gue yang terlalu dangkal atau memang susah untuk dimengerti kata-katanya.
Salah satu puisi atau sajak atau apalah itu yang buat gue merasa novel ini wajib dibaca adalah puisi tentang Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh sendiri. Maknanya dalam banget.
Mungkin sekian dulu review gue sama novel sekaligus film ini. Makasih udah mau baca.
PS: Puisinya gue selipin dibawah sini.
Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari
Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar
terbang pada kupu kupu, tetapi kupu kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk
pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai
ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang
lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya mengitari bumi, lebih
tinggi dari gunung dan awan.
Namun sang Puteri masih jauh di awang awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang
berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk mampu melesat
secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta
langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat
di puterinya, maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju.
Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang
Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada
serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah cinta sejati,” ia
berbisik, “tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu
merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati
Ksatria mungil, namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya….
”Berhenti!”
”Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah, dan ia pun
melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya
galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan
percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk
dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan
Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.
No comments:
Post a Comment