Wednesday, April 1, 2015

(Not) A Perfect Husband

Sebagian dari kalian berpikir kalau aku pasti menderita sekarang. Memikirkan bagaimana cara masuk PTN saja sudah pusing. Bagaimana jika tantangan kali ini adalah orangtuamu dengan segala rayuan mautnya (baca: pemaksaan) menyuruhmu untuk menikah setelah kamu lulus dari jenjang SMA?

Padahal, aku sendiri masih memiliki impian yang ingin kugapai. Aku masih menginginkan untuk mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria yang telah kubuat sejak dahulu. 

Ya, ya. Aku tahu tidak ada pria sempurnah di dunia ini. Tidak ada manusia yang sempurna lebih tepatnya. Tapi apakah kalau aku berharap tentang pria sempurna dimataku salah? Kurasa tidak. Dan jujur saja, saat itu aku berharap sekali ada seorang pangeran berkuda putih yang datang meminangku seperti film-film buatan Disney.

Sekarang, disinilah aku. Pria yang berada dihadapanku memang bukanlah pria idaman yang selalu bisa memberikan kebahagiaan. Dia tidak sempurna. Dia tidak seperti apa yang kuperkirakan saat waktu aku masih berangan-angan tentang suami sempurna atau idaman. Tapi, dia mampu membuatku mengenal akan artinya cinta dalat diraih dengan belajar. 

Dia bukan suami sempurna. Terkadang kami masih berselisih paham akan masalah-masalah kecil. Tapi jika ditanya sekarang, bagaimanakah suami idamanmu nanti yang akan kamu nikahi?

Jawabannya adalah suami yang sedang bersamaku dan memelukku erat dari belakang sekarang.




Faith

Sakit. Tapi, apalah dayaku? Aku hanya sahabatnya. Dan aku adalah seorang gadis yang tidak memiliki kelebihan khusus seperti mantan-mantannya yang sebelumnya.

Di mataku, dia adalah sosok sempurna yang mampu membuatku merasakan bahagia ditengah pahitnya hidup. Sosok sempurna yang selalu siap ada untukku. Aku mengaguminya sejak pertama bertemu. Tidak permah terpikir olehku kalau aku akan menjadi sahabatnya. Statusku sekarang lebih tepat disebut 'terjebak friendzone'. Kata yang sekarang sangat familiar disematkan kepada seorang sahabat yang sudah terlibat permainan hati dengan sahabatnya tanpa tahu apakah sahabatnya juga menyimpan perasaan yang sama.

Seleranya yang tinggi membuatku tidak berani berharap dia akan melirikku lebih dari sahabat. Aku hanya seorang gadis yang tidak mengerti bagaimana menjadi seorang gadis sesungguhnya yang anggun menawan dengan tutur yang lbut dan menyenangkan lawan bicaranya. Aku tidak mengerti bagaimana menjadi gadis idaman pria.

Hari ini, tepat 6 bulan aku bertahan dalam status friendzone yang kubenci. Bersamaan dengan itu, hari ini dia menyatakan perasaannya pada seorang gadis cantik dilapangan sekolah dengan bermodalkan sebuah gitar dan lagu kesukaanku yang sering dia mainkan untukku jika bertandang kerumah. Bodohnya lagi, aku mau menjadi orang yang membantunya untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Aku mau menjadi 'bakul' curahan hatinya saat dia mengejar gadis itu. Aku mau menjadi seseorang yang berguna baginya walaupun hati kecilku ini sudah tidak berbentuk akibat luka yang secara tidak langsung dia torehkan dengan manis.

Apakah kamu akan melihatku sebagaimana aku melihatmu? Apa keyakinan ini cukup besar untuk membuatku bertahan saat melihatmu bersama gadis lain? 

Entahlah.