Suaramu mengalun merdu bersamaan dengan petikan
gitar akustik yang kamu mainkan. Terkadang, mataku mencuri pandang kearahmu
yang sedang serius menekuni hobimu. Melihatmu yang sedang serius, memberikanku
berbagai macam alasan lagi mengapa aku selalu betah berada lama-lama didekatmu.
Menurutku, kesempurnaan terletak padamu.
Orang bilang, tak ada manusia yang sempurna dimuka bumi ini. Tapi aku
yakin—orang yang mengatakan hal itu mungkin tak pernah menemukan seseorang yang
sesungguhnya mereka cari di dunia ini. Aku yakin, Tuhan sebenarnya telah
memberikan kita masing-masing ‘kesempurnaan’ itu.
“Liatin gue serius banget lo. Seganteng
itukah gue dimata lo?” Suaranya memecah keheningan otakku.
“Hahaha... Ge-er banget lo.” Bantahku
sambil meninju pelan lengannya. Dia berlagak seperti orang kesakitan dan
mengelus pelan lengan yang baru saja kulayangkan tinju. Aku tertawa dan kembali
menekuni kebiasaanku jika malam tiba: menatap langit.
Kami sama-sama terdiam. Aku dengan
pikiranku, begitupula dia. Mataku menatap kagum pada cahaya puluhan bintang
yang tersebar dilangit. Walaupun mungkin tidak secerah saat melihat bintang di
pegunungan yang minim polusi udara dan cahaya, tapi ini sudah cukup untukku.
Ada kenyamanan dan kedamaian sendiri untukku saat menatap titik-titik cahaya
putih ditengah kelamnya langit malam.
“Bintang menurut lo ada berapa banyak?”
Kali ini, suaraku yang memecah keheningan malam ditaman belakang rumahku.
Kulihat dia tampak berusaha menghitung.
“Puluhan? Ratusan? Jutaan?” Dia
menawarkanku berbagai macam pilihan satuan. Aku tertawa pelan dan kembali
mendongak ke langit.
“Menurut ilmuwan antariksa, bintang itu
jumlahnya sampai sekarang belom pasti. Ratusan miliar katanya. Bahkan ada yang
lebih besar dan terang dibanding matahari. Padahal ya, buat gue matahari aja
udah terang banget.”
“Aduh anak IPS sok-sok aja lo ngerti
pelajaran anak IPA.”
Aku menatap dia dengan alis yang
dikerutkan, “Dengan jadi anak IPS bukan berarti gue sebodoh itu kali. Jaman SD
sama SMP juga lo diajarin tentang luar angkasa.”
“Hahaha... Kemungkinan besar gue nggak
lulus pas pelajaran itu dulu.”
Tawaku meledak. Dia memang tidak pernah
menyukai pelajaran yang berbau ilmu pengetahuan alam. Ya, aku juga. Tapi karena
kecintaanku pada bintang dan benda-benda angkasa lainnya memintaku untuk
menggali lebih jauh tentang benda-benda yang berada di luar sana. Dia lebih
suka dengan pelajaran yang bukan eksak. Pelajaran yang selalu mengikuti
perkembangan dunia. Dan musik, musik juga menjadi hal yang sangat dia gemari.
Para gadis mungkin sudah bisa jatuh hati padanya saat dia mengeluarkan kata
pertama untuk pembukaan lagu yang akan dinyanyikannya.
“Eh....” Dia memanggilku. Aku kembali
menoleh kearahnya.
“Apa?” Tanyaku santai.
“Nanti pas lo udah cukup umur, gue bakal
bawa lo ke satu tempat. Lo bakal puas liatin bintang disana.”
Aku kembali tertawa, “Cukup umur? Gue udah
16 tahun,” aku menghitung sudah lewat berapa bulan sejak ulang tahunku yang
ke-16, “Gue udah 16 tahun lewat 6 bulan!”
“Iya, tetep aja. Nanti. Lo tinggal
puas-puasin deh liat bintangnya disana.”
“Dimana sih? Planetarium-nya Taman
Ismail Marzuki?” Tanyaku seraya memikirkan tempat-tempat yang mungkin akan
menjadi tujuannya.
“Bukan lah! Tau Bukit Bintang nggak?”
Bukit
Bintang? Aku
menggeleng. Tempat apa itu?
“Katanya orang sih, dan hasil searching-an gue dari internet, itu spot
terbaik buat ngeliat bintang di Bandung. Terus, juga disitu paling bagus buat
ngeliat kota Bandung di waktu malam. Gue belom pernah sih. Tapi, gue pastiin lo
adalah orang pertama yang bakal gue ajak kesana.” Katanya tersenyum.
Aku balas senyum menawannya. Senyum yang
selalu aku dambakan setiap kali dia berada disisiku. Senyum yang dapat merubah mood-ku seketika. Senyum yang tulus,
yang... entahlah....
“Oh ya? Yakin gue bakal jadi orang
pertama yang lo ajak ke sana?”
Dia mengangguk yakin.
Dan hatiku melompat gembira saat melihat
anggukkan kepalanya itu.
“Nanti itu kapan?” Tanyaku antusias.
“Pas ultah lo yang ke-18.”
“Kenapa 18?”
“Karena disaat itulah lo memulai
semuanya lagi dari awal. Menata kehidupan lo setelah SMA. Karena buat gue, masa
depan lo ditentukan dari sana. Lo bakal dihadapkan dengan dunia yang sama
sekali asing bagi lo. Walaupun lo bilang lo tau dunia apa itu, tapi sebenernya
lo clueless sama sekali. Sama kayak
bintang. Buat lo yang suka mandangin bintang, mungkin dia nggak asing buat lo.
Tapi sebenernya dia asing, lo nggak tau ada apa disana, nama bintang itu apa,
lo nggak tau dia ada dimana sebenernya. It’s
totally strange.”
Aku terdiam. Speechless karena ternyata
dia bisa menjadi bijak.
“Beneran lo bakal ajak gue?” Tanyaku
lagi memastikan. Memang masih tersisa waktu sekitar satu setengah tahun lagi,
tapi apa salahnya kalau aku memastikannya sekarang?
“Iya. Gue janji bakal ngajak lo. Dan lo
jadi orang pertama yang gue ajak kesana.”
“Janji?” Aku mengulurkan jari kelingkingku,
tanda perjanjian jaman TK.
Dia lalu mengulurkan jari kelingkingnya
juga dan mengaitkannya pada kelingkingku, “Janji, Dre. Dan gue bakal tepatin
janji itu.”
Dalam hati aku berdoa semoga dia akan
tetap terus mengingat janji ini sampai satu setengah tahun kedepan.
Dan menepatinya.
Karena aku menunggu.
No comments:
Post a Comment