Friday, May 22, 2015

Eighteen

Suaramu mengalun merdu bersamaan dengan petikan gitar akustik yang kamu mainkan. Terkadang, mataku mencuri pandang kearahmu yang sedang serius menekuni hobimu. Melihatmu yang sedang serius, memberikanku berbagai macam alasan lagi mengapa aku selalu betah berada lama-lama didekatmu.
Menurutku, kesempurnaan terletak padamu. Orang bilang, tak ada manusia yang sempurna dimuka bumi ini. Tapi aku yakin—orang yang mengatakan hal itu mungkin tak pernah menemukan seseorang yang sesungguhnya mereka cari di dunia ini. Aku yakin, Tuhan sebenarnya telah memberikan kita masing-masing ‘kesempurnaan’ itu.
“Liatin gue serius banget lo. Seganteng itukah gue dimata lo?” Suaranya memecah keheningan otakku.
“Hahaha... Ge-er banget lo.” Bantahku sambil meninju pelan lengannya. Dia berlagak seperti orang kesakitan dan mengelus pelan lengan yang baru saja kulayangkan tinju. Aku tertawa dan kembali menekuni kebiasaanku jika malam tiba: menatap langit.
Kami sama-sama terdiam. Aku dengan pikiranku, begitupula dia. Mataku menatap kagum pada cahaya puluhan bintang yang tersebar dilangit. Walaupun mungkin tidak secerah saat melihat bintang di pegunungan yang minim polusi udara dan cahaya, tapi ini sudah cukup untukku. Ada kenyamanan dan kedamaian sendiri untukku saat menatap titik-titik cahaya putih ditengah kelamnya langit malam.
“Bintang menurut lo ada berapa banyak?” Kali ini, suaraku yang memecah keheningan malam ditaman belakang rumahku. Kulihat dia tampak berusaha menghitung.
“Puluhan? Ratusan? Jutaan?” Dia menawarkanku berbagai macam pilihan satuan. Aku tertawa pelan dan kembali mendongak ke langit.
“Menurut ilmuwan antariksa, bintang itu jumlahnya sampai sekarang belom pasti. Ratusan miliar katanya. Bahkan ada yang lebih besar dan terang dibanding matahari. Padahal ya, buat gue matahari aja udah terang banget.”
“Aduh anak IPS sok-sok aja lo ngerti pelajaran anak IPA.”
Aku menatap dia dengan alis yang dikerutkan, “Dengan jadi anak IPS bukan berarti gue sebodoh itu kali. Jaman SD sama SMP juga lo diajarin tentang luar angkasa.”
“Hahaha... Kemungkinan besar gue nggak lulus pas pelajaran itu dulu.”
Tawaku meledak. Dia memang tidak pernah menyukai pelajaran yang berbau ilmu pengetahuan alam. Ya, aku juga. Tapi karena kecintaanku pada bintang dan benda-benda angkasa lainnya memintaku untuk menggali lebih jauh tentang benda-benda yang berada di luar sana. Dia lebih suka dengan pelajaran yang bukan eksak. Pelajaran yang selalu mengikuti perkembangan dunia. Dan musik, musik juga menjadi hal yang sangat dia gemari. Para gadis mungkin sudah bisa jatuh hati padanya saat dia mengeluarkan kata pertama untuk pembukaan lagu yang akan dinyanyikannya.
“Eh....” Dia memanggilku. Aku kembali menoleh kearahnya.
“Apa?” Tanyaku santai.
“Nanti pas lo udah cukup umur, gue bakal bawa lo ke satu tempat. Lo bakal puas liatin bintang disana.”
Aku kembali tertawa, “Cukup umur? Gue udah 16 tahun,” aku menghitung sudah lewat berapa bulan sejak ulang tahunku yang ke-16, “Gue udah 16 tahun lewat 6 bulan!”
“Iya, tetep aja. Nanti. Lo tinggal puas-puasin deh liat bintangnya disana.”
“Dimana sih? Planetarium-nya Taman Ismail Marzuki?” Tanyaku seraya memikirkan tempat-tempat yang mungkin akan menjadi tujuannya.
“Bukan lah! Tau Bukit Bintang nggak?”
Bukit Bintang? Aku menggeleng. Tempat apa itu?
“Katanya orang sih, dan hasil searching-an gue dari internet, itu spot terbaik buat ngeliat bintang di Bandung. Terus, juga disitu paling bagus buat ngeliat kota Bandung di waktu malam. Gue belom pernah sih. Tapi, gue pastiin lo adalah orang pertama yang bakal gue ajak kesana.” Katanya tersenyum.
Aku balas senyum menawannya. Senyum yang selalu aku dambakan setiap kali dia berada disisiku. Senyum yang dapat merubah mood-ku seketika. Senyum yang tulus, yang... entahlah....
“Oh ya? Yakin gue bakal jadi orang pertama yang lo ajak ke sana?”
Dia mengangguk yakin.
Dan hatiku melompat gembira saat melihat anggukkan kepalanya itu.
“Nanti itu kapan?” Tanyaku antusias.
“Pas ultah lo yang ke-18.”
“Kenapa 18?”
“Karena disaat itulah lo memulai semuanya lagi dari awal. Menata kehidupan lo setelah SMA. Karena buat gue, masa depan lo ditentukan dari sana. Lo bakal dihadapkan dengan dunia yang sama sekali asing bagi lo. Walaupun lo bilang lo tau dunia apa itu, tapi sebenernya lo clueless sama sekali. Sama kayak bintang. Buat lo yang suka mandangin bintang, mungkin dia nggak asing buat lo. Tapi sebenernya dia asing, lo nggak tau ada apa disana, nama bintang itu apa, lo nggak tau dia ada dimana sebenernya. It’s totally strange.”
Aku terdiam. Speechless karena ternyata dia bisa menjadi bijak.
“Beneran lo bakal ajak gue?” Tanyaku lagi memastikan. Memang masih tersisa waktu sekitar satu setengah tahun lagi, tapi apa salahnya kalau aku memastikannya sekarang?
“Iya. Gue janji bakal ngajak lo. Dan lo jadi orang pertama yang gue ajak kesana.”
“Janji?” Aku mengulurkan jari kelingkingku, tanda perjanjian jaman TK.
Dia lalu mengulurkan jari kelingkingnya juga dan mengaitkannya pada kelingkingku, “Janji, Dre. Dan gue bakal tepatin janji itu.”
Dalam hati aku berdoa semoga dia akan tetap terus mengingat janji ini sampai satu setengah tahun kedepan.
Dan menepatinya.
Karena aku menunggu.

No comments:

Post a Comment